PARE

PARE

                Pare, siapa sih yang gak kenal pare? tentu banyak yang gak tahu tentang pare, Pare adalah sebuah kota kecil di Kabupaten Kediri atai sering disebut dengan kampung bahasa/ kampung ingris karena banyak terdpat tempat kursus bahasa ingris dan bahasa yang lainnya. Namun saya kali ini tidak membahas tentang kota pare karena sudah pernah saya bahas sebelumnya. yang saya bahas di sini adalah Asal mula Kota pare, menurut “katanya” nama pare diambil dari nama sejenis sayuran entah buah saya juga kurang tahu, itu jenis sayuran atau buah (kalian bisa googling sendiri) yang namanya “PARE”. konon sebelum menjadi kota, disitu banyak sekali tanaman Pare kemudian di babat habis oleh Belanda.  Buah Pare ini/ sayuran ini rasanya pahit, biasanya digunkan untuk campuran “jangan” atau sayur lodeh untuk masakan. kalau di olah dengan benar rasa pahit itu juga hilang. Pare juga katanya berhasiat untuk obat. Tanaman ini sekarang sudah hampir langka di Pare sendiri. yang saya ingin dulu waktu kecil di belakang rumah Bulek saya ada tanaman pare, buahnya warnanya hijau dan kuliatnya tidak rata/bergelombang. Buahnya mirip kayak mentimun. Contoh gambar disamping adalah Buah pare dari Banyuwangi yang dibawakan oleh istri kakak saya sedikit berbeda dengan buah pare yang berada di banyuwangi, entah saya yang kurang tahu atau bagaimana, dulu saya melihat kalu buah Pare di Pare itu warnanya hijau dan kecil-kecil tapi dari Banyuwangi ini buah Parenya warna kuning dan agak besar.

Iklan

GUA SELOMANGKLENG

klik Link ini …………. GUA SELOMANGKLENG.

ini adalah tulisanku yang aku publikasikan di dieng planteo,

sebenanrya ikut lomba,,, tapi belum beruntung

semoga tulisan itu bermanfaat. amin

Festival Layang-layang

Beberapa waktu yang lalu tepatnya awal Nopember 2011 di desa saya (Nepen) mengadakan festifal layang-layang, lebih tepatnya adalah Lomba layang-layang. Berbeda dari biasanya layang-layang yang di lombakan barus berjenis “Bapangan” (layang-layang Besar) dan di layangkan pada malang hari mulai jam 3 sore sampai jam 9 malam. Bapangan itu harus diberi lampu minimal 16 lampu agar terlihat di malam hari. Lomba ini di ikuti oleh 20 peserta dari 2 desa yaitu Nepen dan Surowono. Kebangakan bentuk bapangan peserta lomba sama, namun mereka menghiasi pernak-pernik lampunya dengan berbeda, ada yang berbentuk kapal terbang, Bintang, bentuk roket atau kelap-kelip. Banyak warga desa lain yang melihat lomba layang-layang ini. jarang-jarang ada lomba seperti ini di desaku, semoga tahundepan diadakan lagi. Perlombaan ini dipertandingkan selama seminggu. dan pemenangnya adalah peserta dengan no 17 dengan bapangan berhiaskan bintang.

SLG (Simpang Lima Gumul)

DESA NEPEN

                Oh za teman-teman Desa tempat kelahiranku bernama desa Nepen. Terletak di kecamatan Badas kabupaten Kediri Jawa timur. Desa ini berada pada kurang lebih 30 Km ke arah utara Kota Kediri. Mata pencaharian Sehari-hari penduduk setempat adalah Petani dan Perikanan. Desa kami dan sekitarnya terkenal dengan Ikan Gurami, Tombro dan Lele. Rata-rata penduduk desa Nepen berpendidikan MA (Madrasal Aliyah : Setara SMA) dan beberapa Juga anak Pondokan. Hanya segelintir orang yang mengayam pendidikan Tinggi atau Kuliah.

Untuk menuj desa kami:

Dengan Kendaraan UMUM

  • Dari arah Surabaya : Naik bus HASTI/PANGERAN Jurusan Pare turun di Perempatan Bringin -Pare kemudian naik Ojek sekitar 4 Km Menuju ke Desa Nepen. Baca lebih lanjut
duaribuan

untuk bulutangkis Indonesia

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Haris eXpress

ilmu yang banyak tak akan berguna jika tidak di manfaatkan

dunia gradien

Just another WordPress.com weblog

Catatan Hidup

Aku berjalan dan kutuliskan jejak ini

"Sekedar Info"

Berbagi Informasi untuk Indonesia