KTP

Kemarin setelah hari raya idul fitri saya ingin mengurus KTP saya yang sudah habis masa aktifnya. Sebelumnya saya juga tidak mendapatkan surat panggilan untuk KTP. sehingga saya hanya ingin mengurus KTP manual saja (KTP BIASA). Di Desa saya kalau ingin cepat biasanya cukup kita ke Kasun (Kamituwo) , Modin atau ke Kabayan dengan membayar uang 50.000 rupiah. Namun saya mencoba untuk mengurusi KTP saya sendiri mulai dari tingkat RT-KECAMATAN. Pertama Blangko pengesian KTP di kantor kecamatan itu sebenarnya ada, namun pada waktu saya ke kantor kecamatan dan petugasnya bilang kalau Blankonya habis dan disuruh ke Kelurahan. saya pun ke Kekelurahan, dan ternyata disana masih sepi, padahal untuh Jam 10.00 pagi, hanya ada petugas kebersihan yang menyapu ruangan. Kemudia saya tanya petugas kebersihan tersebut.”Ini petugasnya ada apa tidak pak?” beliau menjawab “saya tidak tahu mas, nanti datang atau tidaknya.” Kemudia saya kecewa dan akhirnya kembali pulang ke rumah. Baca lebih lanjut

Iklan

Kembalinya Asas islam PPP

Kembalinya Asas islam PPP

Oleh : Moh Haris hariyadi

  1. Partai Persatuan Pembangunan

            Partai Persatuan Pembagunan (PPP) didirikan tanggal 5 Januari 1973, sebagai hasil fusi[1] politik empat partai Islam, Partai Nadhlatul Ulama, Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Islam Perti[2].

            PPP didirikan oleh lima deklarator yang merupakan pimpinan empat Partai Islam peserta Pemilu 1971 dan seorang ketua kelompok persatuan pembangunan, semacam fraksi empat partai Islam di DPR. Para deklarator itu adalah;

  • KH Idham Chalid, Ketua Umum PB Nadhlatul Ulama;
  • H.Mohammad Syafaat Mintaredja, SH, Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi);
  • Haji Anwar Tjokroaminoto, Ketua Umum PSII;
  • Haji Rusli Halil, Ketua Umum Partai Islam Perti; dan
  • Haji Mayskur, Ketua Kelompok Persatuan Pembangunan di Fraksi DPR.

            PPP berasaskan Islam dan berlambangkan Ka’bah. Akan tetapi dalam perjalanannya, akibat tekanan politik kekuasaan Orde Baru, PPP pernah menanggalkan asas Islam dan menggunakan asas Negara Pancasila sesuai dengan sistem politik dan peratururan perundangan yang berlaku sejak tahun 1984. Baca lebih lanjut

Makalah : NU dan Muhammadiyah dalam Politik

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

            Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur’an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat. Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.[1]

            Ciri ke tiga yang melekat pada Persyarikatan Muhammadiyah adalah sebagai Gerakan Tajdid atau Gerakan Reformasi. Muhammadiyah sejak semula menempatkan diri sebagai salah satu organisasi yang berkhidmat menyebarluaskan ajaran Agama Islam sebagaimana yang tercantum dalam Alquran dan Assunah, sekaligus memebersihkan berbagai amalan umat yang terang-trangan menyimpang dari ajaran Islam, baik berupa khurafat, syirik, maupun bid’ah lewat gerakan dakwah. Muhammadiyah sebagai salah satu mata rantai dari gerakan tajdid yang diawali oleh ulama besar Ibnu Taimiyah sudah barang tentu ada kesamaaan nafas, yaitu memerangi secara total berbagai penyimpangan ajaran Islam seperti syirik, khurafat, bid’ah dan tajdid, sbab semua itu merupakan benalu yang dapat merusak akidah dan ibadah seseorang.[2] Baca lebih lanjut

duaribuan

untuk bulutangkis Indonesia

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Haris eXpress

ilmu yang banyak tak akan berguna jika tidak di manfaatkan

dunia gradien

Just another WordPress.com weblog

Catatan Hidup

Aku berjalan dan kutuliskan jejak ini

"Sekedar Info"

Berbagi Informasi untuk Indonesia