Oleh : Moh Haris Hariyadi, S. Hum

Pendekatan Sosiologi terhadap Sejarah

            Pendekatan sosiologi dalam ilmu sejarah, menurut Max Weber, dimaksudkan sebagai upaya pemahanan interpretatif dalam kerangka memberikan penjelasan (eksplanasi) kausal terhadap perilaku-perilaku sosial dalam sejarah. Sejauh ini perilaku-perilaku sosial tersebut lebih dilekatkan pada makna subjektif dari seorang individu (pemimpin atau tokoh), dan bukannya perilaku massa. Pendekatan sosiologi dalam ilmu sejarah menghasilkan sejarah sosial. Bidang garapannya pun sangat luas dan beraneka ragam. Kebanyakan sejarah sosial berkaitan erat dengan sejarah sosial-ekonomi. Tulisan Marc Bloch mengenai French Rural History, Sartono Kartodirdjo tentang Peasants’ Revolt of Banten. Kelas sosial, terutama kaum buruh, menjadi bidang garapan juga bagi sejarah sosial di Inggris. Demikian pula proses transformasi sosial dengan berkembangnya pembagian kerja sosial yang kian rumit dan diferensiasi sosial yang menjadi sangat bervariasi dan terbentuknya aneka ragam institusi sosial juga tidak pernah luput dari pengamatan sejarwan sosial. Tema-tema seperti : kemiskinan, perbanditan, kekerasan dan, kriminalitas dapat menjadi bahan tulisan sejarah sosial. Di pihak lain seperti kesalehan, kekesatriaan, pertumbuhan penduduk, migrasi, urbanisasi, transportsasi, kesejahteraan, dan lain-lain telah banyak dikaji dan semakin menarik minat para peneliti sejarah.[1]

            Dalam penulisan sejarah yang multi dimensional yang mengungkapkan hal-hal seperti kondisi sosial, budaya, kepercayaan, yang mempunyai akar dalam kehidupan masyarakat. Dalam penulisan sejarah yang multidimensional menggunakan deskriftif analisis yang berusaha menguraikan kausalitas, faktor-faktor kondisional, dan determinasi dari suatu perisriwa. Diharapkan dengan menggunakan pendekatan multidimensional, maka dalam penulisan sejarah akan mendekati dengan realitasnya. Salah satu dari konsep pendekatan sejarah multidimensional adalah menggunakan konsep teori-teori sosial khususnya pendekatan structural. Dalam suatu peristiwa sejarah mesti terdapat aspek sosial didalamnya, dalam hal ini menggunakan pendekatan sosiologis penting artinya untuk mengungkapkan perisriwa sejarah tersebut. Poengunaan konsep sosiologis sebagai ilmu Bantu sejarah mampu mengungkap kedaan sosial dan struktur masyarakat dalam kajian sejarah. Dalam pendekatan sosiologis akan memiliki berbagai struktur yang didalamnya mencakup aspek kehidupan dalam masyarakat seperti aspek ekonomi, struktur politik, struktur sosial dsb. namun dalam dalam pendekatan sosiologis tidak dapat dipaksa untuk mensejajarkan dengan struktur masyarakat lain seperti yang di ungkapkan oleh W.P. Wertheim bahwa dalam penggunaan pendekatan sosiologis yang dipaksakan penulisan sejarah, maka hal itu kurang tepat. Pendekatan sosiologis dapat digunakan selama ada keserasian pola antara kejadian dan konsep yang digunakan, selebihnya tidak dapat dipaksa harus sama.

            Dan juga dapat di tegaskan pula bahwa sejarah analitik dan sejarah struktural hanya dapat dikaji dan di tulis dengan baik apabila pendekatan sosiolagis khususnya dan ilmu sosial pada umumnya diterapkan. Dengan perkembangan jenis-jenis sejarah tersebut terbuka kesempatan luas bagi pertumbuhan pelbagai ragam sejarah baru antara lain : Sejarah politik gaya baru, Sejarah sosial, Sejarah Sosiologis, Sosiologi Sejarah dan sejarah agraris.

            Sejarah sosiologis menunjuk kepada sejarah yang disusun dengan pendekatan sosiologis. Sosiologi Sejarah adalah studi sosiologis mengenai suatu kejadian atau gejala di masa lampau. Penggarapan sejarah oleh orang sosiolog didasarkan atas bahan-bahan sejarah yang di gali sejarawan. Sosiolog tidak dapat diharapkan melakukan kritik sumber. Pendekatan sosiologi dapat saja dilakukan sejarawan yang telah menguasai teori dan konsep sosiologi. Pada sejarawan masih ada kewajiban untuk melakukan kritik sumber.

            Suatu penggarapan sejarah Struktural sudah barang tentu membuka kemungkinan bahwa kedua jenis sejarah itu bertemu, saling tumpah tindih. Sejarawan menguraikan struktur-struktur sosial dari masa tertentu sudah semestinya banyak memakai konsep-konsep sosiologi, sperti stratifikasi sosial, kelas sosial dll. Dapat dipastikan bahwa sosiolog yang menggarap bahan yang sama akan memakai alat-alat analitis dari sosiologi itu.

            Mungkin sesekali bentuk uraianya akan berbeda, tingkat analisis sosiolog akan lebih tinggi ndaripada sejarawan, lagi pula, besar kemungkinan yang terakhir ini akan lebih memberi diskripsi berdasarkan unit-unit proses, sedangkan sosiolog lebih menonjolkan unit-unit striktural. Jika bentuk uraian sejarah sosiologis terutama berupa diskripsi yang membuat banyak fakta sosial yang dirumuskan odengan istilah-isltilah ilmiah dari sosiologi dan sangat retorik yang tidak terlalu dipengaruhi oleh struktur analitis, maka disini sejarah sosiologis tidak lagi menunjukan perbedaan jelas dengan sejarah sosial.Sudah barang tentu suatu naratif murni tidak dapat diharapkan dalam jenis sejarah itu.[2]

            Daftar pustakane

http://intl.feedfury.com/content/17146947-pendekatan-penelitian-sejarah.html

Kartodirjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

[1] http://intl.feedfury.com/content/17146947-pendekatan-penelitian-sejarah.html

[2] Sartono Kartodirjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Hal  146-148

Iklan