Sejarah Perekonomian Islam (resume Buku)

BAB I

Islam dan Perkembangan Pemikiran Ekonomi

 

 

A. Islam sebagai Sistem Hidup.

            Sebagai penyempurna agama terdahulu, Islam mempunyai Syariah yang istimewa, yaitu bersifat komprenhensif dan universal. Komprenhensif berarti syariah islam merangkum seluruh aspek kehidupan, sedangkan universal berarti syariah islam dapat di terapkan dalam setiap waktu dan tempat.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al-Anbiya :107)

B. Kedudukan Akal dalam Islam serta Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan.

            Dalam pengertian islam , Islam merupakan daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia, yaitu daya memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitar. Seperti halnya Al-quran, Rosulullah juga menempatkan ajaran berpikir dan mempergunakan Akal sebagai ajaran yang jelas dan tegas. Dalam hadistnya juga disebutkan untuk menyerahkan berbagai urusan duniawi yang bersifat detail dan teknis kepada akal manusia. Kedua Nash tersebut menunjukan bahwa akal mempunyai kedudukan yang sangat penting dan tinggi dalam ajaran islam. Sejalan dengan hal ini islam memerintahkan manusia untuk mencari dan mengembangkan il mu pengetahuan.

C. Sejarah Pemikiran Ekonomi Dalam Islam.

            Fase Pertama (450/1058 M)

            Fase pertama merupakan fase abad awal sampai abad ke-5 Hijriyah atau abad ke-11 masehi yang dikenal dengan Fase Dasar-dasar Ekonomi Islam yang Dirintis oleh para Foqoha diikuti oleh Sufi kemudian Filosof. Fokus fiqh adalah apa yang diturunkan oleh syariah dan dalam konteks ini para fuqoha mendiskusikan tentang fenomena ekonomi. Tujuan mereka tidak terbatas pada penggambaran dan penjelasan fenomena ini namun demikian dengan mengacu pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi mereka mengeksplorasi konsep maslahah (Utility) dan Mafsadah (Disutility)yang terkait dengan aktivitas ekonomi. Pemikiran yang timbul terfokous kepada apa manfaat sesuatu yang dianjurkan dan apa kerugian bila melaksanakan yang dilarang oleh agama. Pemaparan para fuqoha tersebut mayoritas bersifat normatif dengan wawasan positif ketika berbicara tentang prilaku yang adil, kebijakan yang baik, dan batasan-batasan yang dibolehkan dengan masalah dunia.

            Sedangkan kontibusi tasawuf terhadap pemikiran ekonomi adalah pada keajengannya dalam mendorong kemitraan yang saling menguntungkan tidak rakus dalam memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah Swt, dan secara tetap menolak penempatan tuntutan kekayaan dunia yang terlalu tinggi. Sementara filosof muslim dengan tetap berdasarkan syariah dalam keseluruhan pemikirannya. Tokoh-tokoh pemikiran ekonomi Islam pada fase pertama ini adalah. Diwakili oleh Zaid bin Ali (80 H/738 M), Abu Hanifah (150 H/767 M), Ubaid bi Sallam (224 H/838 M), Ibnu Maskawih (421 H/1030 M) kemudian Al-Mawardi (450 H/1058 M). dan Abu Yusuf (182 H/798 M).

Ide-ide pemikiran yang pernah diciptakan fuqoha dan berdampak pemikiran yang positif antara lain:

            Abu Yusuf (798 M) adalah ekonom pertama yang menulis secara khusus tentang kebijakan ekonomi dan kitabnya Al-Kharaz yang menjelaskan tentang kewajiban ekonomi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rakyat nya. Menyarankan adanya zakat pertanian dan menentang adanya pajak, bagaimana membiayai jembatan, bendungan, dan irigasi.

            Fase KeDua (1058 M-1446 M)

            Fase kedua dimulai pada abad ke-11 sampai pada abad ke-15 masehi dikenal sebagai fase yang cemerlang karena meninggalkan warisan intelektual yang sangat kaya. Para cendikiawan muslim dimasa lampau mampu menyusun konsep tentang bagaimana umat melaksanakan kegiatan ekonomi yang seharusnya berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Pada saat yang bersamaan sisi lain mereka menghadapi realitas politik yang ditandai oleh dua hal:

* Disintegrasi pusat kekuasaan Bani Abbassiyah dan terbaginya kerajaan kedalam beberapa kekuatan regional yang mayoritas didasarkan pada kekuatan (power) ketimbang kehendak rakyat.
* Merebaknya korupsi dikalangan para penguasa diiringi dengan dekadensi moral dikalangan masyarakat yang mengakibatkan terjadinya ketimpangan yang semakin melebar antara si kaya dan si miskin.

Pada masa ini wilayah kekuasaan islam yang terbantang dari Maroko sampai Spanyol Barat hingga India di Timur telah melahirkan berbagai pusat kegiatan intelektual.

Tokoh-tokoh pemikir ekonomi islam pada fase ini diwakilkan oleh:

Al-Ghazali (w. 505 H/1111 M), Ibnu Taymiyah (w. 728/1328 M), Al-Syatibi (w. 790 H/1388 M), Ibnu Khaldun (beliau dapat dianggap sebagai pelopor perdagangan fisiokrat dan penulis klasik seperti misalnya, Adam Smith, dan penulis Neo klasik lainnya seperti Keynes), dan Al-Maqirizi (845 H/1441 M).

Ide-idenya Al-Ghazali  menjelaskan fungsi-fungsi uang dalam perekonomian jauh sebelum lahirnya Adam Smith 700 tahun sebelum bapak ekonomi konvensional menulis bukunya The Wealth of Nation.

            Fese Ketiga 1446 M-1932 M

            Fase ketiga yang dimulai pada tahun 1446 hingga 1932 Masehi merupakan fase tertutupnya ointu ijtihad ( Independent Judgement ) yang mengakibatkan fase ini dikenal dengan Fase STAGNASI. Pada fase ini para fuqoha hanya menulis catatan-catatan para pendahulu nya dan mengeluarkan fatwa-fatwa yang sesuai dengan aturan standar bagi maing-masing mazhab. Namun demikian, terdapat sebuah gerakan pembaru selama dua abad terakhir yang menyeru untuk kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad Saw sebagai sumber pedoman hidup.

Tokoh-tokoh Pemikir Ekonomi Islam pada fase ini adalah :

Shah Wali Allah (w. 1176 H/1762 M), Jamaluddin Al-Afgani (w. 1315 H/1897 M), Muhammad Abduh (w. 1320 H/1905 M), dan Muhammad Iqbal (w. 1357 H/1938 M).

BAB II

Sistem Ekonomi dan Fiskal Pada Masa Pemerintahan Rosulullah Saw

 

 

A. Latar Belakang

Yatsrib sebelum datangnya Islam tidak mempunyai pemimpin yang berdaulat. Aus dan Khazraj dua kabilah terbesar memperebutkan kekuasaan, sehingga beberapa kelompok meminta Nabi menjadi pemimpin.Pertemuan dua kali, tahun 12 kenabian = bai’at Aqabah pertama dan tahun ke-13 = bai’at Aqabah kedua. Nabi hijrah dan nama Yatsrib berganti Madinah. Nabi menjadi pemimpin bangsa Madinah. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat (muamalah) banyak turun di kota ini.

Strategi yang diambil:

1. membangun masjid; masjid nabawi berfungsi sebagai islamic centre—pertemuan parlemen, setneg, MA, markas besar tentara, pusat pendidikan dan pelatihan juru dakwah, dan baitul mal. Sehingga Rasul berhasil menghindari pengeluaran untuk membangun infrastruktur bagi negara Madinah yang baru terbentuk.

2. Merehabilitasi Kaum Muhajirin; ada 150 keluarga yang hijrah dengan bekal yang sangat minim. Kebijakan Nabi adalah dengan menanamkan persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan darah; ukhuwah ini juga didasarkan pada prinsip-prinsip material (individu/keluarga anshar diperintahkan memberikan sebagian harta kepada muhajirin sampai mereka memperoleh pekerjaan yang dapat dijadikan pegangan hidup.

3. Membuat konstitusi negara, yang menyatakan kedaulatan Madinah sebagai sebuah negara. Berisi hak-kewajiban dan tanggung jawab setiap WN, stabilitas dan pertahanan negara.

4. Meletakkan dasar-dasar sistem keuangan negara; seluruh paradigma berpikir di bidang ekonomi serta aplikasinya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dihapus dan digantikan dengan yang sesuai, yakni persaudaraan,  persamaan, kebebasan, dan keadilan.

B. Sistem Ekonomi

  • Prinsip Islam yang sangat mendasar adalah kekuasaan tertinggi hanya milik Allah dan manusia diciptakan sebagai khalifah-Nya. Sebagai khalifah, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan segalanya diperuntukan untuk manusia.
  • Kehidupan manusia tidak bisa dipisah-pisahkan menjadi kehidupan ruhiyah dan jasmaniyah (satu kesatuan) sampai kehidupan akhirat. Mencari kehidupan dunia dan akhirat harus seimbang.
  • Sebagai pengemban amanah khalifah, manusia diberi kebebasan mencari nafkah sesuai dengan hukum yang berlaku serta dengan cara yang adil (inilah salah satu kewajiban asasi dalam Islam). Ini juga bermakna, Islam mengakui kepemilikan pribadi, tidak membatasinya, tetapi hanya melarang perolehan kekayaan dengan cara-cara ilegal dan tidak bermoral.
  • Allah melalui sunnah-Nya menetapkan bahwa jenis pekerjaan/usaha apa pun yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip Qur’ani tidak akan pernah menjadikan seseorang kaya raya dalam waktu singkat; kesuksesan baru akan terwujud jika dilalui dengan kerja keras, ketekunan, dan kesabaran disertai dengan doa yang tidak pernah terputus.oki perilaku perjudian, penimbunan kekayaan, penyelundupan, pasar gelap, spekulasi, korupsi, bunga, dan riba bukan saja tidak sesuai dengan hukum alam dan dilarang, tetapi pelakunya juga layak dihukum.
  • Islam memandang bahwa setiap orang mempunyai hak penuh untuk memiliki penghasilan/memperoleh harta kekayaan secara legal sehingga dapat menunaikan kewajiban agamanya dengan baik, oki setelah wafat seseorang harus membagikan hartanya kepada ahli warisnya; janda cerai hidup harus diberikan nafkah selama setahun beserta tempat tinggal, begitu juga cerai mati; wasiyat wajibah. Ide distribusi harta waris dan nafkah ini adalah untuk distribusi kepemilikan/kekayaan seseorang kepada orang lain. Semakin banyak orang yang menerimanya akan semakin baik pula implikasinya bagi kehidupan manusia secara keseluruhan.
  • Islam memandang bahwa wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam memperoleh kekayaan, melalui warisan , mas kawin, hadiah, ataupun dengan kerja keras dan usahanya sendiri; bahkan para budak bisa memperoleh dan memiliki kekayaan untuk menggunakannya membebaskan diri.
  • Islam dengan tegas dan keras melarang segala bentuk praktek ribawi/bunga uang. Berbagai pemikiran yang menyatakan cara-cara ribawi sah jelas merupakan pendapat yang keliru dan menyesatkan karena praktek ribawi merupakan bentuk eksploitasi yang nyata. Eksploitasi dalam bentuk apapun dilarang baik dilakukan oleh si kaya terhadap si miskin, penjual terhadap pembeli, majikan terhadap budaknya, laki-laki terhadap perempuan/atasan terhadap bawahannya.
  • Kata riba dalam ayat-ayat al-Qur’an digunakan sebagai terjemahan dari bunga uang yang tinggi. Terminologi dan sistem ini telah dikenal pada masa jahiliyah dan periode awal Islam, yakni sebagai bunga uang yang sangat tinggi yang dikenakan terhadap modal pokok. Namun jika ayat-ayat yang melarang riba ditelaah lebih dalam dan komprehensif, terlihat jelas bahwa Islam sangat menentang keras setiap praktek ribawi, baik dalam jumlah yang sangat tinggi ataupun rendah.
  • Perintah terakhir tentang pelarangan riba datang pada tahun 9 H dan diumumkan oleh Rasul pada khutbah haji wada pada tahun 10 H.
  • Larangan riba diimbangi dengan perintah mengeluarkan sedekah—wajib/sunah.

Prinsip pokok kebijakan ekonomi Islam dalam al-Qur’an

  • Allah Swt. adalah penguasa tertinggi sekaligus pemilik absolut seluruh alam semesta
  • Manusia hanyalah khalifah Allah di muka bumi, bukan pemilik yang sebenarnya
  • Semua yang dimiliki dan didapatkan manusia adalah atas rahmat Allah. Oleh karena itu, manusia yang kurang beruntung mempunyai hak atas sebagian kekayaan yang dimiliki saudaranya
  • Kekayaan harus berputar dan tidak boleh ditimbun
  • Eksploitasi ekonomi dalam segala bentuknya, termasuk riba harus dihilangkan
  • Menerapkan sistem warisan sebagai media redistribusi kekayaan yang dapat mengeleminasi berbagai konflik individu
  • Menetapkan berbagai bentuk sedekah—wajib/sunah—terhadap individu yang memiliki harta kekayaan yang banyak untuk membantu mereka yang tidak mampu.

C. Keuangan dan Pajak

1.sumber-sumber pendapatan negara: Ghanimah, zakat, tebusan tawanan perang, Jizyah

            Awal terbentuknya Madinah, hampir tidak mempunyai sumber pemasukan ataupun pengeluaran negara. Tentara tidak mendapat gaji tetap, oki diperbolehkan mendapat bagian dari harta rampasan perang (ghanimah) yang belum ada ketentuan tata cara pembagiannya. Setelah turunnya surat al-Anfal tahun ke-2 H, ditentukan sbb:

a. 1/5 bagian (khums) untuk Allah dan Rasulnya (untuk negara yang dialokasikan bagi kesejahteraan umum). Rasul membagi Khums menjadi 3 bagian; untuk diri dan keluarganya, kerabatnya, dan bagian ketiga untuk anak yatim, miskin, dan musafir.

b. 4/5 bagian lainnya untuk pasukan yang terlibat perang. Penunggang kuda dapat dua bagian (diri dan kudanya). Yang berhak dapat hanya prajurit laki-laki.

            Hingga awal tahun ke-4 H pendapatan negara masih sangat kecil. Kekayaan pertama diperoleh dari Bani Nadhir yang melanggar perjanjian dan diusir. Tahun ke-7 berhasil menguasai Khaibar. Tidak diusur tapi bagi hasil tanah pertanian.

Tahun ke-2 H, ada kewajiban zakat fitrah, setelah kaum muslimin stabil ekonominya, tahun ke-9 H* diwajibkan zakat mal.

            Sebelum diwajibkan zakat bersifat sukarela, hanya komitmen pribadi tanpa ada aturan khusus atau batasan-batasan hukum, ketika fondaasi Islam telah benar-benar kokoh, tahun ke-9 Allah menurunkan ayat yang mengatur alokasi pengeluaran zakat. Rasul juga menetapkan peraturan zakat, seperti sistem pengumpulan zakat, barang-barang yang dikenakan zakat, batas bebas zakat, dan tingkat persentase zakat.

*menurut ahli hadis zakat diwajibkan sebelum tahun itu. Maulana Abul Hasan, th ke-5 H; fakta sejarah juga menyebutkan sejak di Mekkah ayat-ayat tentang zakat sudah turun; pidato Ja’far di sidang Najasyi tahun ke-5 kenabian atau pembebanan zakat dan ushr atas anggur dan kurma terhadap bani Tsaqif pada tahun ke-8 H.

D. Baitul  Mal

            Harta yang merupakan sumber pendapatan negara disimpan di Masjid dalam jangka waktu yang singkat untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat hingga tidak tersisa sedikitpun. Semua hasil pengumpulan negara harus dikumpulkan dahulu dan kemudian dibelanjakan sesui dengan kebutuhan negara, status harta pengumpulan adalah milik negara, bukan Individu.

E. Sumber Pengeluaran Negara     

Primer Sekunder
Biaya pertahanan

Penyaluran zakat

Pembayaran gaji

Pembayaran Upah sukarelawan

Pembayaran Utang Negara

Bantuan untuk musafir

Bantuan untuk orang yang belajar agama

Hiburan untuk para delegasi keagamaan

Hadiah untuk pemerintah negara lain

Pembebasan kaum budak muslim

Tunjangan orang miskin

Tunjangan sanak saudara Rosul

Persediaan darurat

 Buku : resume buku dari abdurahman karim

dapat di baca jg di Kompasiana

diresume : oleh Moh haris Hariyadi

Silahkan komentar..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

duaribuan

untuk bulutangkis Indonesia

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Haris eXpress

ilmu yang banyak tak akan berguna jika tidak di manfaatkan

dunia gradien

Just another WordPress.com weblog

Catatan Hidup

Aku berjalan dan kutuliskan jejak ini

"Sekedar Info"

Berbagi Informasi untuk Indonesia