Cerpen : Menemukan-MU

            Hiruk pikuk kamera terus mengiringi langkahku menuju mobil, Ibu menggemgam tanganku begitu erat sehingga terasa sakit. Ibu terlihat begitu tergesa-gesa menuju mobil dan menjauhi para orag-orang yang membawa kamera dan beberapa orang yang ingin mewancarainya. Raut wajah ibu terasa kesal dengan tingkah laku mereka, begitu juga dengan aku. Cahaya kamera yang terus menerus memotret Ibu dan diriku itu membuat mataku sakit. Ini adalah hari libur, aku ingin sekali berlibur dengan Ibuku yang jarang aku temui karena kesibukannya sebagai Entertainer. Namun dimana ibu berada pasti ada saja kamera yang mengikuti. Aku tahu ibuku adalah artis terkenal yang sering mentereng di televisi. Namun beberapa hari ini Ibu sering terlihat di acara berita infotaimen. Sejak perceraian dengan Ayah ke tigaku, Paparazi sering mengikuti ibuku. hidupku pun juga tergangu dibuatnya, disekolah temen-temanku mencela bahwa aku adalah anak haram, aku tak mengerti apa maksud mereka berkata seperti itu. Aku merasa tidak tahan lagi atas ejekan teman-teman seperti itu, aku minta ibu untuk memindahkanku di SMP yang lain. Kehidupan kami memeng begitu glamor, semua apa yang aku mau terpenuhi. Namun aku belum menemukan kasih sayang Ibu. Aku tahu Ibu bekerja untuk aku, untuk makanku, pendidikanku, mainanku dan semuanya, namun setidaknya aku ingin mencium tangan Ibu saat berangkat sekolah. Ibu begitu sibuk setiap harinya bahkan pada waktu liburpun tetep bekerja. Akibat dari paparasi yang beredar aku di ungsikan ke rumah Kakek di desa, sekaligus meneruskan sekolah disana yang sebentar lagi sudah Lulus.

            “Bruuuaaakkk………..” Ibu membuka pintu rumah kakek dan menutupnya kembali dengan keras.

            “Ibu…?”  aku terdiam di depan pintu luar.

            ” Aku ingin anak Haram ini tinggal disini, aku muak dengan berita yang beredar tentangnya.” suara ibu di balik pintu.

            “Apa maksudmu Lis… Dia itu anakmu!!” suara kakek yang kaget

            “Tidak ada yang ingin menginkannya Pak, bahkan Suamiku sendiri tidak percaya bahwa dia anaknya?” sura Ibu terdengar menangis

            “Lisa…. jangan terpengaruh dengan gosib yang beredar, aku akan merawat anakmu disini” Suara kakek berusaha untuk menenangkan.

            Tiba-tiba Ibu keluar dari dalam rumah kakek, Ibu sempat memelukku dan menciumku dengan tangisannya sebelum dia masuk mobil dan meninggalkanku.

            “Ibu……” au hanya bisa terdiam melihat kesedihan Ibuku..

            “Erik,, masuklah, di luar sedang hujan deras” kakek melambaikan tangannya.

            Aku masih tak mengerti apa yang terjadi dengan keluagaku, aku juga masih tak mengerti apa yang terjadi dengan ayah dan ibu yang sebenarnya. Andai Tuhan mendengar aku, aku ingin sekali bertemu Ayahku yang sebenarnya. akupun tidak tahu apakah Tuhan itu benar-benar ada. Aku dibesarkan dari keluarga yang kaya, agama tidak begitu penting bagi Ibu dan lainya. Aku sekolah di sekolah internasional yang sekuler. dan hanya berpandangan materi saja. Namun jika ada orang yang bertanya padaku atau Ibu dan yang lainya selalu menjawab Islam. Walau atau tidak begitu mengerti bagaimana ritual agama ini, aku jarang melihat Ibu melakukan ritual-ritual agama, bagi Ibuku uang adalah Tuhanya.apalagi kakek, aku sering melihatnya sering membakar kemenyan. bagi kakek Tuhan adalah pohon-pohon besar. Ibu sering sekali menengokku walau hanya sebentar, mungkin hanya memberi uang bulanan pada kakek dan beaya lain-lain. sudah tiga tahun aku tinggal disini dan aku merasa senang banyak teman, walau bertempat di piggir kota dan jauh dari sorotan kamera aku masih bisa menikmati sorotan-sorotan gemerlap lampus diskotik. Apalagi kakek sering sakit jadi aku bebas keluar malam setiap harinya. Aku tahu Ibu sangat sayang sekali pada kakek, namun ibu juga tidak bisa meningalkan profesinya sebagai satu-satunya penghasilan kami.

            tepat setelah aku Lulus SMA Ibu mengambilkku kembali untuk tinggal di Ibukota, aku tahu Ibu sudah menikah lagi dengan pria yang kaya. Diajaknya aku tinggal bersama dengan Pria itu. Setiap minggu kami berlibur dengan suka cita, aku juga dikuliahkan di universitas terkenal di Negera ini. Ibu yang sudah mulai berumur mengurangi kegiatan keartisannya. Kehidupan kami sekarang benar-benar tergantung pada pria ini. Namun aku bahagia karena dia juga sangat baik pada aku dan ibuku. Malam ini hujan begitu derasnya, Ibu dan Ayah juga belum pulang, Dirumah sebesar ini hanya ada 2 orang penghuni saat ini, aku dan Bibi Tu, pembantu di rumah ini. Malam sudah larut dan Telpon genggam meraka juga tidak bisa di hubungi.

Kring…..Kring…..

            “Hallo …” Bibi menjawab telpon rumah yang berdering di tengah badai  malam hari

            “Hallo, bisa biacara dengan bapak Jauhari kami dari Kepolisian” suara dari seberang telpon

            “Maaf pak, bapak jauhari sedang tidak ada di rumah” Bibi tu gugup menjawabnya.

            “Bibi,, dari siapa biar saya yang terima telpon” segera aku turun dari lantai dua

            “Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?” segera aku terima telpon itu

            “Kami dari kepolisian menemukan Ibu Lisa dan seorang kakek mengelami kecelakaan di Jl. Pahlawan”

            Segera aku menuju ke Rumah sakit untuk menemui Ibu dan kakek, disaat bersamaan ayahku datang, Namun dia memawa seorang wanita lain, bau alkohol juga sangat menyengat keluar dari mulutnya.

            “Ayah apa yang kau lakukan, Ibu kecelakaan”

            “Sudahlah nak jangan ikut campur”

            “Mengapa ayah tega melakukan hal seperti ini pada Ibu”

            “Hei nak… Ibumu hanya ingin hartaku saja, lebih baik dia mati.. haha”

            “apa yang kau lakukan dengan Ibu dasar Brengsek,,,,,,” aku kepalkan tanganku tepat mengenai pelipisnya.

            “Dasar anak Kurang ajar.. pergi dari rumah ini dan jangan kembai, dasar anak haram”

            Segera dimalam itu aku pergi dari rumah itu, menemui Ibu dan kakek yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku tahu Ibu menjemput kakek dirumahnya untuk tinggal bersama kami. namun Pria itu hanya memanfaatkan ibu untuk memperkaya dirinya. Aku tahu pria itu sering membawa wania lain ke rumahnya, namun Ibu hanya diam pura-pura tidak tahu. bagi pria ini wanita adalah Tuhannya.

            Malam ini dan seterusnya aku tidak tahu harus kemana, hanya sebotol alkohol menemani jalanku yang tidak tentu arah. Aku sungguh putus asa. aku kehilangan segalanya. tidak pernah aku pikirkan aku akan kehilangan, Ibu, kakek dan Semuanya dalam waktu bersamaan. Tuhan tidak adil padaku. Aku benci pada diriku sendiri, Pada Tuhan yang menciptkan aku sebagai anak haram.

            “hei brow…… sepertinya kau sedang ada masalah”

            Aku melihat seorang pria muda seumaran denganku, dia spertinya orang kaya dilihat dari pakaianya, dia mengulurkan tangannya padaku, Namun penglihatan mataku terlihat samar-samar karena alkohol ini, Tubuhku terasa Berat dan Tiba-tiba aku terbangun dari tidur.

            “kau sudah sadar brow..?” Pria itu menyapaku

            “Siapa kau, dimana aku?” Aku masih terasa pusing

            “Kau ada di rumahku, Aku Leo…, dari tanda pengenalmu namamu Erik kan?”

            “benar.. terimaksih…”

            Leo begitu baik padaku, kami selalu bersenang-senang bersama. Kehidupan malam sudah tidak asing lagi bagiku, seperti rutinitas sehari-hari yang wajib dijalankan. Sekarang ini bagi kami Tuhan adalah kehidupan malam. Malam membuat kami larut dalam masalah-malsalah kami. Leo selalu melindungiku jika ada masalah, dia juga yang merawatku jika sakit. aku tahu ada yang tidak benar yang kami lakukan. Kami saling menyayangi dan menjalin cinta terlarang sesama jenis atau Gay. aku bisa hidup sampai sekarang atas semua jasa-jasa Leo, dia juga yang mencarikan pekerjaan untukku.

            Sudah beberapa tahun ini kami hidup bersama menjalin cinta terlarang, dan beberapa bulan ini aku juga sakit-sakitnya tepatnya 3 bulan ini batukku tidak sembuh-sembuh. awalnya aku mengira ini hanya sakit biasa. namun ini sudah di batas kewajaran karena batuk ini terus mengangguku selama tiga bulan terakhir. Leo menyuruhku untuk memeriksakan sakitku ini, demi Leo aku menurutinya.

            begitu indah sekali jembatan merah ini, dialiri sungai yang sangat jernih. Matahari terbenam di sore hari membuat langit mengeluarga mega yang begitu Indah. Tuhan menciptakan alam semesta ini tentunya untuk manusia. Manusia sendiri tak pernah bersukur apa yang dia dapatkan. seperti aku ini. Sudah tidak pastas lagi untuk hidup. semua apa yang aku perbuat mendapat ganjarannya, kini aku positif terkena HIV AIDS.

” Ibu, Kakek dan Ayah kandungku yang entah dimana… Maafkan aku, sudah tidak ada gunanaya aku hidup di dunia ini. Leo….. Maafkan aku, kita salah melakukan perbuatan ini…”. Sesalku

Ku pejamkan mata, aku hirup udara sedalam-dalamnya untuk terakhir kalinya… aku lepas tanganku dari pegangan jembatan untuk segera melompat dari tempat ini…

“Assalamualaikum akhi….. ..”

Seorang wanita berkerudung menghampiriku, wajahnya cantik seperti perempuan turki. menghampiriku membawa bunga mawar. harum tubuhnya mengalahkan harum mawar. dia menutup auratnya degan pakaian yang anggun.

“Waalaikumsalam….”

———————-menciplak karya merupakan tindakan plagiat, pagi yang ingin mempublikasikan cerpen ini mohon di camtumkan nama pengarangnya (Haris), terima kasih ——————————————————

Silahkan komentar..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

duaribuan

untuk bulutangkis Indonesia

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Haris eXpress

ilmu yang banyak tak akan berguna jika tidak di manfaatkan

dunia gradien

Just another WordPress.com weblog

Catatan Hidup

Aku berjalan dan kutuliskan jejak ini

"Sekedar Info"

Berbagi Informasi untuk Indonesia