PERGAULAN BEBAS

TATIK MUKHOYYAROH, S.Psi, M.Si,
Dosen pada Prodi Psikologi Fakultas Dakwah

Seks bebas atau kausal seks (istilah yang diperkenalkan oleh dr. Andi Wijaya dari klinik On Metropolis 27 Juli 2002) di kalangan pergaulan remaja Indonesia akhir-akhir ini dipandang sebagai hal yang meresahkan para orangtua dan pendidik. Sebagian remaja menganggap seks bebas bukan merupakan suatu yang tabu bila dilakukan atas dasar suka sama suka. ‘Atas nama cinta’, seringgkali remaja berkata demikian. Awal September 2001, ada berita cukup menghebohkan di berbagai media massa mengenai kehidupan seks bebas di kalangan remaja. Kasus vcd ITENAS 15, harus membuat para orangtua dan pendidik merasa kuatir dengan pergaulan bebas putra-putrinya. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta, Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan dan Humaniora menghasilkan 95,5 persen mahasiswa di Yogyakarta sudah kehilangan virginitas (Idayatni, Jawa Pos 2002). Terlepas dari kritikan yang diberikan oleh beberapa pihak mengapa responden yang dipakai hanya perempuan. Apakah untuk menjaga virginitas hanya dibebankan pada perempuan???. Bagaimana dengan laki-laki??

Hubungan seks bebas yang dilakukan remaja dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Sekitar 5 persen pada tahun 1980-an, menjadi 20 persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut dikumpulkan dari beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen. Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17–21 tahun dan umumnya masih bersekolah di tingkat SMU atau Perguruan Tinggi. Namun, dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat SLTP (Nugraha, majalah Gemari, 2001). Pada tahun 2010, berdasar hasil penelitian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bahwa remaja yang melakukan seks pranikah di Surabaya mencapai 47 persen, di Bandung 52 persen, dan di Jakarta 54 persen.

Memang, untuk masalah seks bebas, pihak yang relatif paling dirugikan adalah pihak perempuan. Seks bebas itu ibarat sebagai tabrak lari. Usai tabrakan, penabrak dapat pergi begitu saja, dan yang tertabrak –pihak perempuan- akan terus merasakan sakitnya seumur hidup.

Hamil bukanlah satu-satunya risiko bila melakukan seks bebas. Risiko lain yang dapat timbul akibat perilaku tersebut adalah terjangkitnya penyakit menular seksual baik AIDS ataupun yang lain. Seks pranikah juga dapat meningkatkan risiko kanker mulut rahim, jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun. Risiko terkena penyakit tersebut mencapai 4 hingga 5 kali lipat. Disisi lain banyak remaja perempuan yang mengambil jalan pintas ketika tahu dirinya hamil di luar nikah, yaitu menggugurkan kandungannya. Padahal menggugurkan kandungan (aborsi) memiliki risiko yang lebih besar lagi, mulai dari pendarahan sampai dengan kematian.

Melalui penelitian di Surabaya, setiap hari ada rata-rata seratus kasus aborsi. Pelakunya 60 persen ibu rumah tangga dan 40 persen remaja. Saat ini angka aborsi di Indonesia adalah 2,3 juta pertahun. Aborsi yang dilakukan secara tidak aman, artinya sengaja melakukan secara tradisional, dan bila tidak berhasil baru mencari pertolongan dukun maupun medis secara sembunyi-sembunyi, seringkali menyebabkan pendarahan hebat dan berakhir dengan kematian.

Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menyebutkan, aborsi berkontribusi 11,1 persen terhadap angka kematian ibu di Indonesia. Kematian ibu di Indonesia merupakan satu dari yang tertinggi di Asia.

Kehamilan pranikah di usia muda merupakan trauma psikis, terutama bila dialami pertama kali oleh perempuan yang belum stabil. Ditambah lagi dengan pandangan masyarakat yang lebih menyalahkan pihak perempuan, karena pada kenyataanya yang mengalami aborsi adalah perempuan. Namun, sebenarnya dalam proses kehamilan partisipasi laki-laki sama dengan perempuan. Lagi-lagi pihak perempuan yang akan dirugikan dalam masalah ini. Perempuan yang menjadi korban dan menderita, tetapi perempuan pula yang disalahkan.

Dilahirkan sebagai seorang perempuan adalah anugerah yang sangat indah dari Allah Ta’ala. Sebuah anugerah yang tidak dimiliki oleh seorang pria. Hamil dan melahirkan hanya bisa dinikmati oleh perempuan. Termasuk juga fasilitas-fasilitas, kemudahan dan keringanan-keringanan yang hanya ditujukan pada perempuan.

Islam telah memberikan solusi pergaulan yang Islami, baik pada laki-laki maupun perempuan, tidak terkecuali. Islam sangat memperhatikan masalah ini dan banyak memberikan rambu-rambu untuk bisa berhati-hati dalam melewati masa remaja.

Salah satu godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa ketertarikan terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia, baik perempuan atau laki-laki. Namun kalau tidak bisa memenej perasaan tersebut,maka akan menjadi mala petaka yang amat besar,baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Sudah Allah tunjukkan dalam sebuah hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)

Pergaulan antara laki-laki dengan perempuan di perbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa. Dalam pergaulan dengan lawan jenis harus dijaga jarak sehingga tidak ada kesempatan terjadinya kejahatan seksual yang pada gilirannya akan merusak bagi pelaku maupun bagi masyarakat umum. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Dalam menjaga pergaulan remaja agar terhindar dari perbuatan zina, Islam telah membuat batasan-batasan yang salah satunya adalah bahwa :

Laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Jika laki-laki dan perempuan di tempat sepi maka yang ketiga adalah syetan, mula-mula saling berpandangan, lalu berpegangan, dan akhirnya menjurus pada perzinaan, itu semua adalah bujukan syetan. Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan secara fisik. Saling bersentuhan yang dilarang dalam islam adalah sentuhan yang disengaja dan disertai nafsu birahi. Tetapi bersentuhan yang tidak disengaja tanpa disertai nafsu birahi tidaklah dilarang.

Daripada setan yang menemani lebih baik malaikat bukan? Ngaji,membaca Al Quran dan memahami artinya serta menuntut ilmu agama Insyaallah malaikatlah yang akan mendampingi. Tentu sebagai wanita yang cerdas, akan lebih memilih untuk didampingi oleh malaikat bukan?.

Sebagai perempuan muslimah harus yakin bahwa kehormatan harus dijaga dan dirawat, terlebih ketika berkomunikasi atau bergaul dengan lawan jenis agar tidak ada mudhorot (bahaya) atau bahkan fitnah.

Satu Tanggapan

Silahkan komentar..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

duaribuan

untuk bulutangkis Indonesia

alangalangkumitir

Javanese Manuscripts

Haris eXpress

ilmu yang banyak tak akan berguna jika tidak di manfaatkan

dunia gradien

Just another WordPress.com weblog

Catatan Hidup

Aku berjalan dan kutuliskan jejak ini

"Sekedar Info"

Berbagi Informasi untuk Indonesia